Friday, October 29, 2010

ada2aja




Efek GARAM dan GULA pada bayi 6-12 bulan

Bismillah...

 

tinggal menghitung hari Sayyid akan masuk masa pemberian makanan pendamping...

dan sekarang lagi asik2nya nyari referensi menu2 yang sebaiknya diberikan pada masa sayyid 6-12 bulan...

 

Yang paling mencolok dari berbagai referensi itu adalah:

1. Berikan makanan rumahan, bukan makanan2 instan... kalau mau kasih bubur instan cari yang gak berpengawet, gak diberikan tambahan gula dan garam...

2. No sugar and salt... apalagi MSG (penyedap rasa)

3. Jangan memberikan buah yang terlalu manis...

 

Kok kesannya ribet ya...

tapi ternyata ada ilmunya...

 

Salah satu efeknya:

 

Bukan hanya membebani kerja ginjal tapi coba tengok untuk ke depannya: meningkatkan resiko hipertensi dan diabetes. Kita belum bisa ngerasain efeknya sampai kita berumur 30 tahun atau lebih. Tapi coba nanti kita rasakan bedanya setelah kita berumur 45 tahun keatas. Perlahan tapi pasti penyakit karena kelebihan gula dan garam sedikit atau banyak akan kita rasakan.

(milis asiforbaby)

 

berikut salah satu artikelnya..

 

Bayi 6-12 Bulan Jangan Diberi Garam, Gula dan Buah Manis

Vera Farah Bararah - detikHealth

 

Jakarta, Setelah si kecil berusia 6 bulan, maka asupan nutrisinya tidak hanya dari ASI tapi juga ditambah dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Tapi sebaikya ibu tidak memberikan gula, garam dan buah yang terlalu manis pada bayi usia 6 bulan sampai 1 tahun.

 

Makanan yang sehat penting untuk pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak, karena itu asupan makanan ini harus sesuai dalam hal kualitas dan kuantitasnya.

 

Untuk memenuhi nutrisi anak, maka sebaiknya ibu menggunakan bahan yang segar sehingga anak mendapatkan vitamin dan mineral yang optimal.

 

Jangan anggap enteng bayi usia 6-12 bulan karena itu adalah masa kritis yang menentukan kebiasaan makan seterusnya hingga dewasa.

 

"Usia 6-12 tahun adalah masa kritis dalam menentukan pola makan anak nantinya. Karena itu sebaiknya orangtua memberikan makan pada anaknya secara bervariasi, tanpa paksaan, tidak terlalu manis dan jangan ditambahkan garam,"

 

ujar Dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, SpGK dalam acara 'Temu Media Philips Avent' dengan tema berbagai tips menjadi orangtua sukses dalam kesibukan sehari-hari di Hotel Gran Melia, Jakarta, Rabu (7/7/2010).

 

Dr Fiastuti menambahkan tidak ada satu makanan pun yang sempurna, dalam arti mencukupi semua kebutuhan nutrisi anak. Sehingga jika anak ingin mendapatkan asupan nutrisi yang tepat, makanan yang diberikan juga harus bervariasi.

 

<span>Kenapa bayi jangan diberi garam, gula dan buah yang terlalu manis? </span>

 

"Jika bayi sudah diberi garam dan gula dalam makanannya, maka bayi akan terbiasa mendapatkan rasa yang lebih enak dibandingkan dengan makanan murni lainnya. Efeknya, bayi tidak mau makan kalau makanan tersebut tidak manis atau gurih," ungkap dokter kelahiran Jogjakarta 56 tahun silam.

 

Maka itu bayi berusia di bawah 1 tahun, sebaiknya tidak diberikan buah yang terlalu manis, seperti sawo atau nangka karena rasa manisnya yang terlalu tinggi. Tapi berikan buah apel, pir, pepaya atau buah lain yang tidak terlalu manis.

 

Karena jika anak sudah biasa diberikan makanan manis, nantinya anak hanya mau makan makanan yang manis. Sehingga akan susah menyuruhnya mengonsumsi sayur karena sayuran cenderung memiliki rasa hambar.

 

"Ada yang bilang sebaiknya memberi sayuran dulu baru buah, tapi kalau menurut saya dikombinasikan antara buah dan sayur juga bisa," ujar dokter dari 3 orang anak ini.

 

Anak usia di bawah 1 tahun adalah masa untuk mengenal berbagai macam rasa dari buah, sayur dan makanan lainnya. Sehingga jika dari kecil anak sudah diberi makanan yang gurih dan manis, maka nantinya anak punya kebiasaan memilih-milih makanan yang dikonsumsinya, rasa manis dan gurihlah yang jadi pilihan.

 

"Kunci untuk menentukan pola makan anak adalah pada usia 6-12 bulan. Kalau sejak usia tersebut sudah diberi Nugget, makanan yang gurih dan kaya lemak, maka sudah pasti anak tersebut tidak akan suka dengan sayur dan buah," imbuhnya.

 

Selain garam dan gula, bayi di bawah usia 1 tahun juga sebaiknya<span> tidak diberikan madu,</span> karena berisiko mengandung bakteri Clostridium yang bisa menyebabkan botulisme. Makanan lain yang dihindari adalah kacang-kacangan dan juga susu sapi, hal ini karena bisa memicu timbulnya alergi.

 

Usahakan untuk menunggu hasilnya hingga 4 hari ketika memperkenalkan makanan baru pada bayi. Hal ini untuk memudahkan orangtua melihat apakah bayi memiliki reaksi alergi tertentu terhadap makanan tersebut atau tidak.

 

Selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, makanan pendamping ASI ini juga memiliki tujuan merangsang keterampilan makan anak terutama keterampilan motorik oral serta merangsang rasa percaya diri anak karena tidak mungkin anak menyusu terus sampai besar.

 

Tapi sekali lagi berikan makanan yang bervariasi seperti buah-buahan yang tidak terlalu manis, sayuran, dan masakan yang tidak terlalu banyak garam.

Monday, October 25, 2010

sayyid 5 bulan


emang mirip?

taken on our room, di perjalanan menuju bandung n rumah neneknya Sayyid di bandung....

Friday, October 22, 2010

perkembangan Sayyid 5 bulan

Alhamdulillah...

Saat ini sayyid berusia 5 bulan 6 hari... hihihi
Sekarang sayyid udah:

  • Jago guling guling... wuiihhhh... ini yang paling seru... bikin aku sebagai ummynya jadi susah tidur, karena Sayyid seringkali "merampok" bagian kasurku utk tidur... hehe...

    Ada satu moment dramatis (hihii) saat aku dan suamiku liat Sayyid sedang belajar untuk membalikkan badannya setelah tengkurep... Susah payah Sayyid melakukannya sampai hampir menyerah dan menangis... tapi aku dan suami terus memberikan semangat untuk Sayyid dan membiarkannya terus berusaha... Sampai akhirnya happ berhasilll... langsung aku dan suamiki berteriak gembiraa sambil mengucapkan "Alhamdulillah... Sayyid pinter... hebatt...." dan Sayyid pun teriak kegirangan... hihihi

    Tapi masa ini masa rawan ... dan benarlah kemarin siang aku dapet laporan dari pengasuh Sayyid kalo Sayyid jatuh dari tempat tidur... karena ditinggal di tempat tidur dalam keadaan tiduur tapi si teteh lupa naro pembatas guling dan bantal... tapi Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada hal yang mengkhawatirkan... Sayyid tetep ceriaaaa ^^

  • Semakin kenal dengan ummynya, abbynya, uwanya (neneknya).. Kalo aku pulang dia langsung girang bangett... dan tangannya mencoba menggapai aku minta digendong... tapi kalo sama aku bawaannya pengen nen terus... jadi kalo aku lagi capek, aku minta suamiku atau si teteh utk bawa keluar... karena kalo liat aku terus jadi pengen nempell teruss...
    Ada masanya juga Sayyid nangis gak mau diem dan ternyata hanya diem ketika digendong neneknya... hihiyy

  • Teriakannya makin dahsyat... dan skarang suka banget ketawa cuman "He he" cuman 2 kata he he... dengan senyum nyengirnya yang menggemaskan...

  • Seneng banget ketemu orang2 baru.. jadi kayak "CAPER" hehhehe.... beberapa kali diajak silaturahim ke rumah temen/sodara reaksinya langsung happy... senyum, ketawa, loncat2 (gerakin kakinya)... sampai dapat julukan "si ramah" dari teman suamiku...

  • Pijakan kakinya makin kuat... jadi sukanya dibuat berdiri... plus dirangsang dengan deketin ke tembok atau apapun ... dan Sayyid langsung suka deh nendang2... :D
Apalagi yaa... hmmm 3 mingguan lagi Sayyid maem... 
Doakan Sayyid sehat selalu yaaa... ^^

Thursday, October 14, 2010

Kenapa ngotot ngasih makan saat 6 bulan

Bismillah...

Mungkin aku dibilang paling aneh di keluargaku... ngotooot bangettt mau kasih makan Sayyid pas 6 bulan aja...
Apalagi Sayyid gak gemuk seperti bayi2 lainnya...

Udah banyak nasehat2 yang meluncur dari keluargaku... bukan cuman orangtua, saudara kandung, bahkan om dan tanteku...

Sampai2 bidan bayiku...yang bikin aku berfikir 2 kali lagi untuk periksa kandungan di sana untuk anak ke-2 ku nanti...

Dari yang cara ngucapinnya enak di hati sampai yang bikin aku ngerasa sakit hati... tapi insyaAllah sudah dimaafkan...

Dan sebgian besar bikin aku down...

Tapi semakin kencang tiupan dari kanan dan kiri ... semakin giat aku belajar dari banyak teman2 di milis sehat dan browsing2 via internet....

Memang sampai saat ini bisa dibilang aku sudah gagal ASIX... tapi apa daya... aku insyaAllah sudah berusaha maksimal... dari pompa ASI di kantor sampai berusaha bangun tengah malam untuk pompa lagi...

ALhamdulillah dari hasil pompa/perah di awal cuman 90mL per hari sampai sekarang bisa mencapai 300mL... dan aku yakin pasti akan bertambah lagiii....

Bukan aku sombong dan tidak mau mengikuti saran2 dari orang2 terutama keluarga yang sudah dulu punya anak...

Tapi, aku hanya ingin melakukan sesuatu karena aku paham ilmunya,.. bukan karena ikut2an...

Dan AKu,,, hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Sayyid... berdasarkan ilmu yang aku pahami dan bisikan hati yang aku yakini...

Dan ini salah satu ilmu yang aku dapatkan:

Sumber: http://asuh.wikia.com/wiki/ASI_eksklusif#cite_note-Luluk-2

    Mengapa Jangan Memberikan Makanan Sebelum Enam Bulan

    Tidak ada untungnya memberikan makanan pengganti ASI sebelum enam bulan - selain kelebihan berat badan yang tidak perlu. Malahan, bisa jadi MPASI tersebut memicu alergi pada bayi, gangguan pencernaan, atau obesitas[4].

    Mengapa umur 6 bl adalah saat terbaik anak mulai diberikan MPASI ?

        * Pemberian makan setelah bayi berumur 6 bulan memberikan perlindungan besar dari berbagai penyakit. Hal ini disebabkan sistem imun bayi < 6 bl belum sempurna. Pemberian MPASI dini sama saja dg membuka pintu gerbang masuknay berbagai jenis kuman. Belum lagi jika tidak disajikan higienis. Hasil riset terakhir dari peneliti di Indonesia menunjukkan bahwa bayi yg mendapatkan MPASI sebelum ia berumur 6 bl, lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi yg hanya mendapatkan ASI eksklusif. Belum lagi penelitian dari badan kesehatan dunia lainnya[3].
        * Saat bayi berumur 6 bl keatas, sistem pencernaannya sudah relatif sempurna dan siap menerima MPASI. Beberapa enzim pemecah protein spt asam lambung, pepsin, lipase, enzim amilase, dsb baru akan diproduksi sempurna pada saat ia berumur 6 bl.
        * Mengurangi resiko terkena alergi akibat pada makanan. Saat bayi berumur < 6 bl, sel2 di sekitar usus belum siap utk kandungan dari makanan. Sehingga makanan yg masuk dapat menyebabkan reaksi imun dan terjadi alergi.
        * Menunda pemberian MPASI hingga 6 bl melindungi bayi dari obesitas di kemudian hari. Proses pemecahan sari2 makanan yg belum sempurna.Pada beberapa kasus yg ekstrem ada juga yg perlu tindakan bedah akibat pemberian MPASi terlalu dini. Dan banyak sekali alasan lainnya mengapa MPASI baru boleh diperkenalkan pada anak setelah ia berumur 6 bl.==Mengapa Jangan Memberikan Makanan Sebelum Enam Bulan==

    Aturan agar menunda memberikan MPASI pada anak < 6 bulan bukan hanya berlaku utk bayi yg mendapatkan ASI eksklusif. Tetapi juga bagi bayi yg tidak mendapatkan ASI (susu formula atau mixed).

----------

Aturan ini bukan hanya rekomendasi pemerintah atas nama DepKes RI tapi ini juga aturan WHO

salah satu artikelnya:

Sumber: http://www.healthpromotionagency.org.uk/work/Breastfeeding/pdfs/infant%20feeding%20guidelines%20cmocno.pdf

 

    Should infants who are mixed fed on both breastmilk and infant formula milk orjust given infant formula milk also introduce solids at six months?

    Yes. The Scientific Advisory Committee on Nutrition (SACN) sub group on Maternal andInfant Nutrition concluded that there are unlikely to be any risks associated withdelaying weaning to six months in infants who are mixed fed on breast and infantformula milk or solely fed on infant formula milk.Six months is the recommended age to introduce solid foods for all normal healthyinfants whether breastfed or given infant formula milk. Health professionals shouldconsider infants' individual developmental and nutritional needs, whether breastfed,mixed fed or given solely infant formula milk before giving advice to introduce solidfoods.

    Regardless of whether babies are breastfed or mixed fed on breastmilk and infantformula milk, mothers should be supported to optimise their infant's nutrition regardingsuitable weaning foods and gradually weaned onto more solid food. Where motherschoose to introduce solid foods before six months, they should follow existing guidanceon appropriate types and amounts of first food (COMA, 1994).

    What are the risks associated with an early introduction of solid food?

    The Introduction of solid food to an infant too early, before sufficient development ofneuro-muscular co-ordination to allow the infant to eat solid foods or before the gut andkidneys have matured to cope with a more diverse diet, can increase the risk ofinfections and development of allergies.Early introduction of solids can also reduce the absorption of nutrients from breastmilk.(COMA, 1994).

 

Paling gampangnya:

Kenapa 6 bulan? Karena enzim pencernaan baru mulai terbentuk saat bayi berumur 6 bulan. (Mbak Inta@sehat)

 

Okelah banyak yang bilang, "anak saya gakpapa kok dikasih makan sejak lahi.. toh sehat2 aja"...

Kalau ada yang berkata begitu... aku cuman mikir dulu dengan sekarang beda... dulu makanan mungkin masih sehat2 jarang ada bahan pengawet, kondisi udara juga masih sehat... polusi udara masih minim, cuaca masih stabil, dsb...

Atau yang paling ekstreme pendapatku....

Yaa bersyukurlah yang anak2nya tetap sehat (seperti aku sendiri yang dikasih makan sejak lahir)...

Mungkin Allah begitu sayang dengan ibu anak tersebut (seperti ibuku)... karena amal ibadahnya, kedekatannya dengan Allah...

 

tapi untuk aku yang ibadahnya masih seadanya, dosa bertumpukk... aku gak bisa sebegitu pedenya melakukan yang biasa2 aja...

aku musti usaha yang lebih dari biasa... untuk memberi yang terbaik untuk titipan Allah...

 

Pun kasus ekstrem anak2 yang dikasih makan sebelum 6 bulan juga banyaak...

Sekarang 1bulan 2 hari lagi menuju 6 bulannya Sayyid...

Mudah2an aku masih kuat untuk menahan tiupan angin dari segala penjuru... Insya Allah... Amiin...

 

Thanks special to my husband yang menguatkanku, teman2 di milis sehat dan asiforbaby... ^^ 

Wednesday, October 13, 2010

no more fire

Alhamdulillahirabbil 'alamiin...

Hanya mau mensyukuri betapa beruntungnya diriku diberikan suami yang tidak pemarah dan penyabar.... sekalipun suamiku gak pernah marah2 ke aku... 

Sempet kesel sekali2 kalo aku lagi kumat kejailannya... tapi abis itu juga ketawa2 lagi ajah...
Kalo ngambek, aku yang sering... bikin suasana jadi hening sehening2nya... tapi itu juga gak lama... alhamdulillah selalu ada penyelesaian...

Kalo liat di tipi2 suami yang melakukan tindak KDRT ... baik secara fisik apalagi psikologis... 
Aku gak habis fikir kok ada yang bisa seperti itu bahkan sampai membuat istrinya meninggal...

Bukannya melindungi dan memberi keamanan bagi istrinya, tapi malah membuat neraka dunia bagi istrinya...

Alhamdulillah wa syukurillah.,..
Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan....

 him

Tuesday, October 12, 2010

Jangan sembarangan minum antibiotik

Just sharing sedikit ilmu...


Kadang kadang kita gampang panik and segera ke dokter kalo anak sakit panas ... 

dan biasanya dokter kasihnya antibiotik dan antibiotik....


terus lama2 jadi kebiasaan.... tanpa resep dokter sakit sedikit beli aja antibiotik

Padahal penggunaan antibiotik yang tidak tepat malah bisa membunuh bakteri yang baik tidak hanya bakteri yang jahat.


Jadi, dibandingkan ke dokter lakukan saja home treatment..

contoh anak pilek... diuapin aja pakai minyak kayu putih, seing2 dijemur, dan berendem air hangat... 

Anak mencret, cukup diberikan banyak cairan agar tidak dehidrasi... paling2 kasih oralit...

sakit tenggorokan, banyak2 aja minum air hangat...

atau yang biasa dilakukan suami saya kalau gak enak badan... panasin badan dengan kasih selimut yang tebal atau pake jaket, mattin kipas angin, makan dan minum yang banyak...


dll...maaf ilmu saya belum banyakk... 


Coba dicek di sini ya... 

atau ikutan saja milis sehat


Dampak Penggunaan Antibiotik yang Irasional


Kamis, 17 September 2009 | 11:22 WIB

KOMPAS.com — Penggunaan atau pemberian antibiotik sebenarnya tidak membuat kondisi tubuh semakin baik, justru merusak sistem kekebalan tubuh karena imunitas anak bisa menurun akibat pemakaiannya. Alhasil, beberapa waktu kemudian anak mudah jatuh sakit kembali.


Jika pemberian antibiotik dilakukan berulang-ulang, ujung-ujungnya anak jadi mudah sakit dan harus bolak-balik ke dokter gara-gara penggunaan antibiotik yang tak rasional.


“Kenyataannya, kita ‘boros’ dalam menggunakan antibiotik sehingga bisa menimbulkan dampak buruk antara lain sakit berkepanjangan, biaya yang lebih tinggi, penggunaan obat yang lebih toksik, dan waktu sakit yang lebih lama,” sesal dr Purnamawati S Pujiarto, SpA (K), MMPed, yang akrab disapa Wati ini.


Selain itu, ada beragam efek yang mengancam bila anak mengonsumsi antibiotik secara irasional, di antaranya kerusakan gigi, demam, diare, muntah, mual, mulas, ruam kulit, gangguan saluran cerna, pembengkakan bibir maupun kelopak mata, hingga gangguan napas.


Bahkan, berbagai penelitian menunjukkan, pemberian antibiotik pada usia dini berisiko menimbulkan alergi di kemudian hari.


Dampak lain akibat pemberian antibiotik irasional adalah gangguan darah di mana salah satu antibiotik seperti kloramfenikol dapat menekan sumsum tulang sehingga produksi sel-sel darah menurun. Risiko kelainan hati muncul pada pemakaian antibiotik eritromisin, flucloxacillin, nitrofurantoin, trimetoprim, dan sulfonamid.


Golongan amoxycillin dan kelompok makrolod dapat menimbulkan allergic hepatitis (peradangan hati). Sementara antibiotik golongan aminoglycoside, imipenem/meropenem, ciprofloxacin juga dapat menyebabkan gangguan ginjal.


Selain itu, pemberian antibiotik spektrum luas tanpa indikasi yang tepat dapat mengganggu perkembangan flora normal usus karena dapat mematikan bakteri gram positif, bakteri gram negatif, kuman anaerob, serta jamur yang digunakan pada proses pencernaan dan penyerapan makanan dalam tubuh. Bakteri yang ada di dalam tubuh umumnya menguntungkan, seperti bakteri pada usus yang membantu proses pencernaan serta pembentukan vitamin B dan K.


Nah, anak yang kelebihan antibiotik bisa mengalami kekurangan vitamin K yang berguna mencegah perdarahan. Selain itu, juga akan menyebabkan anak menderita penyakit diare karena sistem pencernaan terganggu dan mengalami iritasi di bagian usus akibat zat-zat kimia dari antibiotik.


Diare disebabkan terbunuhnya kuman yang diperlukan untuk pencernaan dan menjaga ketahanan usus sehingga bakteri “jahat” menguasai tempat tersebut dan merusak proses pencernaan.


Akibat lain dari pemberian antibiotik yang tidak tepat adalah timbulnya kuman yang resisten. Setiap makhluk memiliki kemampuan untuk bertahan, begitu pun bakteri atau kuman. Jika jasad renik ini diserang terus-menerus, akan tercipta suatu sistem untuk bertahan dengan cara bermutasi atau berubah bentuk sehingga sulit dibunuh oleh antibiotik. “Jadi, semakin sering mengonsumsi antibiotik, makin resisten pula bakteri, parasit, atau jamur tersebut!” tandas Wati.


Bibit penyakit yang resisten itu dikenal dengan nama superbugs. Superbugs ini dapat menjadi masalah serius bagi kesehatan, baik bagi si penderita maupun masyarakat luas. Bila ada anggota masyarakat di suatu lingkungan mengonsumsi antibiotik secara berlebihan (tidak rasional), lingkungan tersebut potensial terinfeksi oleh kuman yang sudah resisten antibiotik.


Infeksi akibat superbugs ini memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat. Pasien harus dirawat di rumah sakit karena antibiotiknya harus diberikan melalui cairan infus. Antibiotik ini berisiko menimbulkan efek samping kesehatan yang lebih berat. Selain itu, dalam waktu cepat, bakterinya akan kebal kembali terhadap antibiotik yang superkuat tadi.


Itulah sederet akibat buruk dari penggunaan antibiotik secara berlebihan (irasional). “Yang akan dirugikan tentu bukan hanya pasien, tapi juga lingkungan sekitarnya,” kata Wati. Lantaran itu, pasien diharapkan tidak selalu meminta dokter memberikan antibiotik terutama untuk penyakit infeksi virus seperti flu, pilek, atau batuk.


Memang, antibiotik mampu memerangi infeksi akibat bakteri atau kuman sehingga tak lepas perannya dalam proses penyembuhan. Akan tetapi, penggunaan yang irasional menyebabkan antibiotik lebih banyak merugikannya ketimbang menguntungkan. (Nakita/Hilman Hilmansyah)


Sumber : Kompas


Friday, October 1, 2010

perkembangan Sayyid 4 bulan

Alhamdulillah sekarang Sayyid udah bisa:
  • tengkurep dengan lancar... kadang2 udah  bisa balik sendiri... buktinya kalo tidur udah sering pindah2 tempat...
  • ngoceh teriak2 kenceeeeng bangettt... gak karuan deh kerasnya... tapi tetep kalah sama teriakan abbynya yang bikin sayyid bengong...
  • udah kenal namanya sendiri... nengok kalo dipanggil: Sayyid, abang, bang Sayyid, deedee
  • semakin seneng mainin tangannya. mainin rattle, kaki, mainan gantung, plastik kresek, ... hehe gak perlu beli yang mahal2 dah mainan... cukup plastik aja dah seneng... teether malah dia gak suka... soale gak bisa bunyi... :D
di umur 4bulan ini, Sayyid lagi belajar:
  • duduk
  • tapi maunya belajar berdiri ... susah deeeh....
secara fisik:
  • makin mirip abbynya: dari pola rambut di kepala, paras wajahnya, tapiii teteppp
  • warna kulit ngikutin aku :D
  • rasa2nya matanya pun mirip akuu.. hehehe kegeeran sendiri
  • gak gemuk sii... lebih terlihat mungill... nah ini mirip akuuu :P
sempet sakit:
  • flu ketularan ummynya sampe suaranya serak2 gituu deeh....
Mudah2an sayyid sehat selalu...
Amiiin <3